Senin, 29 Juni 2015

Kisah dan karakter Willem Iskandar menjadi cermin bahwa pendidikan harus dilakukan penuh pengorbanan lahir bathin, mengutamakan budi pekerti bukan angka-angka.

Kisah dan karakter Willem Iskandar menjadi cermin bahwa pendidikan harus dilakukan penuh pengorbanan lahir bathin, mengutamakan budi pekerti bukan angka-angka.

Masa Willem Iskander sudah berlalu, tetapi sistem simbol perjuangannya dapat digunakan sebagai cermin, yang kemudian diresepsi generasi berikutya. Karya sastra dalam bentuk film memang sangat diperlukan. Melalui hakikat imajinatif, karya sastra mampu membawa penikmatnya pada pemahaman yang lebih lengkap. Manusia tidak cukup hanya menikmati kebutuhan praktis. Kehidupan manusia yang sempurna adalah kehidupan dengan mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani secara seimbang.
Sebagai salah satu hasil aktivitas kultural, karya sastra memiliki tugas penting dalam menopang keberlangsungan hidup bangsa Indonesia. Sesuai dengan hakikatnya, sumbangan karya sastra adalah membangun aspek-aspek rohaniah, membangkitkan energi yang stagnasi sehingga keseluruhan kompanen masyarakat ikut berperanserta.
Seperti dijelaskan di atas, peranan utama karya sastra adalah penertiban sekaligus pemberdayaan aspek-aspek rohaniah dengan cara menampilkan kualitas etis dan estetis, isi, bentuk, sarana, dan pesan.
Perjuangan Willem Iskandar dalam mengutamakan pendidikan masyarakatnya (yang dikemas dalam cerita film lokal) berjudul Senandung Willem. Hal ini sangat penting untuk memperbaiki setiap kehidupan secara lokal-global atau teoretis- kontekstual masyarakat saat ini dalam mengelola pendidikan menghasilkan manusia unggul.
Dalam film yang disutradarai Askolani tersebut, tergambar salah satu usaha yang modern dalam bentuk karya sastra mengenalkan kembali karakter Willem Iskander sebagai pejuang pendidikan. Film seperti ini tentu dapat dideteksi secara pasti akan berpengaruh positif terhadap masyarakat terutama kalangan pendidikan. Tetapi yang jelas film yang merupakan bagian sastra seperti ini telah memainkan peranan jauh lebih penting untuk merefleksi kembali keadaan pendidikan saat ini.
Kebesaran bangsa Indonesia adalah kebesaran masa lampaunya, sebagaimana diwariskan oleh nenek moyang, kerajaan besar, monumen, tokoh sejarah, karya seni, keindahan, dan kekayaan alam ( Kutha Ratna, Sastra dan Kultural Studies; 448). Maka Willem Iskandar adalah tokoh pendidikan yang terkenal dari berbagai buku, terutama buku lokal yang beredar di Mandailingnatal. Dulu kira-kira tahun 1980-an cerita tentang Willem Iskandar ini sering didengar anak-anak usia sekolah dasar dari orang tua atau guru mereka. Turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut sebagai warisan budaya.
Sampai saat ini kisah Willem Iskandar masih ada di Mandailing walaupun sederhana. Misalnya sekolah yang pernah dibangunya dengan pemerintah Hindia Belanda sekarang berdiri megah dengan nama SMAN 1 Panyabungan Selatan di Tanobato. Bahkan nama Willem Iskandar sering digunakan misalnya Jalan Willem Iskandar, SMK Willem Iskandar yang berada di pusat kota Panyabungan. Namun demikian, pengenalan tokoh Willem Iskandar sebagai penjuang pendidikan masih memerlukan perhatian dari berbagai kalangan. Seperti film yang dibuat pihak Tympanum Novem disutradarai Askolani. Kalau saat ini telah ada dalam bentuk film, besok akan muncul dalam bentuk novel atau yang lain yang lebih modern.
Berbicara tentang karakter karakter dalam sebuah film atau cerita adalah sifat-sifat atau watak seorang tokoh (Luxemburg). Dalam film ini, Willem Iakandar memiliki nama panggilan Sati. Ia adalah seorang anak keturunan raja. Sati diperbolehkan mengeyam pendidikan di kerajaan Hindia Belanda di tanah Mandailing. Dalam pergaulannya dengan pemerintah Hindia Belanda Sati benar-benar tekun belajar. Kedewasaan pikiran dan jiwanyapun tumbuh berkembang.
Sati selalu risau dengan keadaan masyarakatnya saat itu. Orang tua selalu mengajak anaknya berdagang dan berusaha membantu berkebun atau bersawah. Sementara pendidikan terabaikan. Selain itu masyarakat memiliki kebiasaan menikahkan anaknya dalam usia muda. Saat itu masyarakat beranggapan dengan cara yang demikian permasalahan kehidupan akan semakin baik. Tentu didukung sulitnya mendapatkan pendidikan karena yang boleh bersekolah di sekolah pemerintahan Hindia Belanda harus keturunan raja.
Pernah suatu ketika Sati dipanggil kedua orang tuanya agar ia menikah dulu, jangan bersekolah terus, nanti keburu tua. Sati dengan tegas menjawab bahwa ia masih harus melanjutkan sekolahnya sampai merantau ke negeri lain. Ia pun pergi setelah direstui keluarganya. Demi pendidikan untuk bangsanya, ia rela meninggalkan keluarga dan kekasih yang sangat dicintainya.
Setelah ia menyelesaikan pendidikannya, Sati pulang ke kampungnya. Ia meminta kepada pemerintah Hindia Belanda agar memberikan izin dan bekerjasama mendirikan sekolah pendidikan guru di kampungnya. Akhirnya sekolah itu berdiri dengan nama Kweekschool di tanah “Batoe”. Sekolah ini berdiri atas kerjasama dengan masyarakat berkat semangat gotong royong dan tentunya difasilitasi pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1863, sekolah Kweekschool sempat menjadi bahan perdebatan di parlemen Hindia Belanda, karena ada sebuah sekolah yang begitu baik mutunya di daerah jajahan, justru dengan fasilitas yang amat tidak sebanding dengan sekolah di Eropa. Perdebatan itu terutama digagas oleh tokoh parlemen, M. Husni Tamrin tahun 1871. Dan keluarlah keputusan parelemen yakni: sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, guru sekolah guru harus mampu menulis buku pelajaran, dan bahasa daerah harus dikembangkan sesuai kaidah-kaidah bahasa.
Tahun 1874, Willem Iskander membawa Banas Lubis, muridnya, melanjutkan sekolah ke Belanda. Banas Lubis kemudian meninggal di Belanda dan menyebabkan beban pikiran bagi Willem Iskandar, kesedihan mendalam. Willem sakit-sakitan dan meninggal tanggal, 8 Mei 1876. Ia kemudian dikubur di Zorgvlied Begraafplaats, Amsterdam, yang disebutkan sebagai halaman rumah Cristina Winter.
Berangkat dari cerita dalam film tersebut, bila disesuaikan kondisi saat ini betapa tragisnya pendidikan kita. Misalnya terjadinya pelecehan seksual di lingkungan pendidikan, carut-marut ujian nasional yang diduga banyak kecurangan, sertifikasi guru diduga tidak memperbaiki kualitas, sistem perkuliahan jarak jauh asal-asalan, penyaluran dana BOS yang tak tepat sasaran, dan lainnya. Ini semua telah terjadi di masyarakat kita dan patut dikhawatirkan. Di saat kita memiliki semuanya tetapi pendidikan justru mengalami permasalahan yang menunjukkan kita semakin lalai dan tak berdaya.
Kisah dan karakter Willem Iskandar dalam film Senandung Willem menjadi cermin bahwa pendidikan itu harus dilakukan berdasarkan hati nurani dan keihklasan dan penuh pengorbanan lahir bathin. Pendidikan itu harus mengutamakan budi pekerti bukan angka-angka. Dan pendidikan itu harus berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia bukan berpihak kepada individu atau kelompok orang perorang untuk mengambil keuntungan tertentu.
Semoga apa yang dipaparkan dapat menjadikan introspeksi kita semua, terutama bagi pemangku pendidikan di pusat dan di daerah. Bila kita ingin menjadi bangsa yang sejahtera, damai, dan bermartabat, jalan satu-satunya harus melalui pendidikan dan melaksanakannya secara jujur sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945. Semoga, amin.
Oleh Marataon Nasution
Penulis adalah guru SMAN 1 Tambangan Dan Kelas Unggulan MTsN Panyabungan  Mandailingnatal.
Koran Waspada


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas partisipasi dalam pelestarian adat-istiadat