Minggu, 21 Februari 2010

RIWAYAT PATUAN DOLOK RAJA PANUSUNAN TAMIANG TERAKHIR

 
Raja Panusunan Mandailing Dan Kepala Kuria Mandailing 



Raja Panusunan Tamiang ke-11 adalah Partomuan Lubis dengan gelar Patuan Dolok III. Dimana Patuan Dolok III juga memangku jabatan sebagai Kuria Di Kerajaan Tamiang Adat Tradisional Mandailing pada saat masa zaman penjajahan Belanda, dimana secara global terjadi Perang Dunia Ke-2 (antara tahun 1939-1945 dimana Belanda juga dijajah Bangsa Jerman) yang sangat menyulitkan kehidupan masyarakat Mandailing secara umum, karena sebaga Raja Panusunan dan Kepala Kuria yang merupakan bagian administratif pemerintahan kolonial  Belanda yang mempunyai tugas memungut belasting (pajak) kepada rakyat dan saudaranya sendiri.
Masa pemerintahannya mengalami penjajahan Jepang (1942-1945) lebih menyesengsarakan Bangsa Indonesia pada saat itu khusus masyarakat Mandailing. Sistem Raja Panusunan dan Pemerintahan Kuria juga berlangsung sampai pada zaman kemerdekaan dan di bubarkan pada tahun 1946.
Menurut yang dituturkan Haji Abdul Aziz Lubis Gelar Sutan Kumala Porang (Manambin, Mantan Bupati Tapanuli Selatan) kepada Haji Tamanah Lubis, SH gelar Sutan Alogo Panusunan bahwa Patuan Dolok teman seperjuangannya di Kotanopan tahun 1945, dimana Patuan Dolok ikut mendukung Pengumuman Proklamasi Kemerdekaan dan Pengibaran Bendera Merah Putih yang pertama kalinya, kurang lebih 3 bulan setelah 17 Agustus 1945, karena penjajah Jepang menghalangi pengumuman kemerdekanan RI, terbatasnya komunikasi dan banyak rakyat/masyarakat takut. Turut hadir, mendukung dan menyaksikan pengumunan proklamasi kemerdekaan pertama kali di Kotanopan, antara lain:
  1. Partomuan Lubis Gelar Patuan Dolok .
  2. Raja Enda Mora dari Manambin, anaknya Patuan Singasoro Baringin.
  3. Raja Junjungan Lubis dari Huta Godang (mantan Gubernur Sumatera Utara).
  4. SS Paruhuman dari Singengu mantan Sekwilda Pemda Sumut dimakamkan Taman Pahlawan Medan, dimana keturunannya Syarifuddin Lubis, SH menjadi Sekwilda Kalimantan Selatan dan  Executive Director Association Of Indonesian Regency Government (Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia)
  5. Amzar Lubis dari Muara Soro Manambin abang kandung dari Muktar Lubis.
  6. Rahmansyah Lubis Gelar Sutan Guru pada usia 13 tahun (ikut menyaksikan)
Bahwa Raja-Raja Adat Tradisional Mandailing juga berkomitmen merdeka seperti Raja-Raja Adat diseluruh Indonesia bersatu dengan  Negara Republik Indonesia, karena sebelum sampai 17 Agustus 1945 belum bisa memerdekakan diri. Dimana Raja-Raja Adat diseluruh Indonesia memberi amanah kepada Bung Karno untuk memproklamasikan  Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 sebagai awal  mempererat persatuan Negara Republik Indonesia dan menjadi Raja Budaya (Culture) dalam melestarikan tradisi, adat-istiadat, kebudayaan lokal (local genius) yang semakin lama semakin punah.


 Bandung

 
Pematang Siantar 

 
Bandung, Muarajeum Baru, Patuan Dolok III, Sutan Guru, Sutan Panusunan 
Patuan Dolok ikut menegakkan pemerintahan Republik Indonesia di Zaman Revolusi sampai 17 Agustus 1946 dan selanjutnya berkarya sebagai pegawai negeri sipil  Pekerjaan Umum (PU) di zaman kemedekaan sampai pensiun.
Riwayat Perjalanan hidup  Partomuan Lubis  gelar Patuan Dolok , diuraikan: :
Tanggal Lahir    :  2 Mei 1902.
Tempat Lahir    :  Tamiang di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Pendidikan Patuan Dolok , antara lain :
  1. Sekolah agama Pesantren  di Sumatra Barat.
  2. Technnisch Onderwijs Koningin Wilhelmina School (KWS) Batavia (Djakarta), jurusan arsitektur yang berlokasi di Vritmetselaarsweg, yang menjadi nama Jalan Budi Utomo No.7 Jakarta Pusat  dan sekarang menjadi nama  Sekolah Teknik Menengah Arsitektur.

 
Tempat Sekolahnya Patuan Dolok III

 

Riwayat Pekerjaan Partomuan  Lubis Gelar Patuan Dolok menurut Baliani Lubis, SH Gelar Sutan Panusunan, antara lain :
·         Ofseter di Kotanopan  di Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda.
·         PU Gemeente Medan di Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda.
·         Sejak Menjadi Kepala Koeria di Tamiang : Tahun 1932 dan berakhir menjadi Kepala Koeria di Tamiang pada  Tahun 1946.
·         Setelah sistem Kuria dihapuskan pada tahun 1946, maka Patuan Dolok sempat stagnan  kurang lebih 3 atau 4 bulan.
·          Kepala Seksi PU dan Pengairan di Sibolga tahun 1946 setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.
·         Kepala Seksi PU di Kotanopan setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.
·         Kepala Seksi PU di Rantau Prapat.
·         Kepala Seksi PU di Pematang Siantar.
·         Kepala PU Daerah Simalungun Pemda Siantar.
·         Kepala Seksi PU di Polonia Medan.
·         Setelah purnabakti dari PNS Pemda Sumut mendirikan PT. Gapalba Medan yang bergerak di bidang kontraktor.
  
Karya/Pembangunan/Proyek yang pernah dikerjakan Patuan Dolok selama berkarir di Pekerjaan Umum (PU), antara lain:
  1. Ikut pembangunan Pesangrahan Kotanopan pada zaman kolonial Belanda.
  1. Ikut pembangunan  Pusat Pasar Padang Sidimpuan.
  2. Ikut pembangunan Pusat Pasar Moderm yang pertama di Medan.
  3. Ikut pembagunan renovasi proyek Bandara Polonia Medan.
  4. Ikut pembangunan lapangan terbang Batang Toru bersama AURI.

Selama perjalanan hidupnya, Patuan Dolok mempunyai istri:
Istri Pertama:         
Soeti Nasution, dengan Gelar Na Duma I. Lahir di Muara Parlampungan. Meninggal di  Tamiang Mandailing ( Madina), 23 Mei 1999 dengan usia 86 tahun.
Suti Nasution Na Duma I

Istri Kedua:               
Zahara Siregar, Lahir 15 Juni 1921dan meninggal di Bandung  tanggal 1,  Desember 1999, berusia 82 tahun.
Zahara Siregar istri kedua Patuan Dolok III, Bandung




















Badung, Patuan Dolok III, Zahara Siregar 

Patuan Dolok setelah pensiun pindah ke Bandung (Muararajeun Baru dan  wafat di Pemakaman Cikutra Bandung pada tanggal  20 April 1986, berusia 84 tahun.


Patuan Dolok disamping sebagai Raja  Panusunan dan Kepala Kuria juga memiliki  kelebihan, antara lain :
  1. Raja Panusunan, Patuan Dolok sangat  dekat dengan rakyatnya baik di Zaman Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang, era Kemerdekaan Republik Indonesia.
  2. Ia juga bersifat dermawan kepada  masyarakat dan kerabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas partisipasi dalam pelestarian adat-istiadat